Tampilkan postingan dengan label petani sumedang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petani sumedang. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2022

Petani Gula Aren Di Kaki Gunung Manglayang

Bah Kamsid, namanya. Petani gula aren yang kini tengah memasuki usia 90, tak ada alasan untuk mengalah pada sakit, mulai demam hingga sempat mengalami struk ringan sekalipun, Bah ncid tidak pernah menyerah untuk tetap menjalankan kehidupannya.

Bahkan, diusianya yang tengah senja itu, Ia masih mampu menaiki pohon kurang lebih 5 sampai 6 meter tingginya. dengan jalan yang lumayan terjal untuk menuju lokasi perkebunan dari rumah panggung tempat dirinya dan keluarga tinggal, setiap harinya bah kamsid harus berjalan kaki selama kurang lebih 1jam saat pulang dan pergi setiap pagi dan sore menjelang.

Untungnya, Bah Kamsid tidak sendiri dalam menjalani proses pembuatan gula aren yang dijualnya, melainkan dibantu oleh anaknya yang bernama pak Nemad.

Merunut proses pembuatan gula aren sendiri, ternyata membutuhkan penangan yang cukup lama dan repot, terlebih semua tahap dilakukan secara konvensional, manual dan alami. bahkan kompor yang digunakan untuk merebus air nira, menggunakan tungku. selain memang air nira perlu dikocek saat mulai matang agar tidak cepat mengeras, kayu sebagai bahan bakar tungku, pun harus senantiasa diperhatikan agar api yang menyala tetap terjaga.

Sebenarnya, gula yang diproduksi dengan cara konvensional serta dari bahan yang asli tanpa oplosan, lebih memiliki manfaat original, gula aren ini mengandung anti oksidan, mencegah anemia, obat diet dan campuran obat lainnya, dan masih banyak lagi.

Mulai dari sekitar jam 7 pagi, Bah kamsid harus sudah beranjak ke kebun untuk memasang wadah air nira, Pak Nemad yang juga ikut tidak bisa seharian menemani Bah Kamsid yang bekerja dikebun, karena harus kembali dengan membawa kayu bakar dan mulai memproses gula aren di tungku hingga ke pencetakan.

Demikian dengan Bah Kamsid yang masih dilokasi kebun penyadapan air nira sejak pagi tadi. Ia mengumpulkan kayu bakar, mengurusi pepohonan dan tanaman sayuran lain yang ia tanam. hingga sore, sekira pukul 4 sore, Bah Kamsid mulai mengumpulkan nira hasil sadapanya.

di samping itu, Pak Nemad membereskan pekerjaan produksinya, bersiap-siap untuk kembali ke kebun menerobos hutan untuk menjemput Bah Kamsid sambil memikul air nira sebagai bahan gula untuk di olah ke esokanya.

Dalam 1 hari, keluarga Bah kamsid bisa memproduksi gula sekitar 40 butir, yang biasa dititipkan oleh istri pak nemad ke warung-warung dengan harga jual sekitar 30rb untuk setiap 1 kemasan isi 10 butir.

Rumah Bah Kamsid, merupakan rumah paling ujung pemukiman warga yang hanya beberapa kepala keluarga saja, alias rumah yang paling dekat dengan hutan gunung manglayang.

Wilayah tersebut di sebut Kampung babakan Loa, yang juga termasuk ke wilayah Desa Genteng, Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang.*G